Jumaat, 29 Januari 2010

An example of a true 'Alim



 Upon Refuting The Mufti Of Syria In A Friday Speech, Shaykh Muhammad al-Yaqoubi Is Dismissed From His Job In Damascus.


In defence of the Prophet Muhammad, Shaykh Muhammad al-Yaqoubi delivered this past Friday a speech rebuking the Mufti of Syria, Shaykh Ahmad Hassoun, for his scandalous blasphemy against the Prophet. He also demanded that the Mufti resign and leave public service out of embarrassment and shame before his Lord Allah and the Prophet.


On Tuesday January 19, 2010, the Mufti of Syria made some very troubling remarks about the Prophet of Islam in front of an American delegation lead by the Orthodox Rabbi Marc Gopin.
 
The Mufti's remarks, which were published in the Jerusalem Post and aired on Israeli Army Radio, included: “If the Prophet Muhammad had asked me to deem Christians or Jews heretics, I would have deemed Muhammad himself aheretic...If Muhammad had commanded us to kill people, I would have told him hewas not a prophet...”

Shaykh al-Yaqoubi devoted his Friday speech on January 22nd to this subject refuting the Mufti and asserting the necessity to obey the Messenger of Allah in every command including the news about the Qur'an and the names of the prophets.

In his speech, Shaykh al-Yaqoubi explained, “We know that Moses and Jesus are prophets only because our Prophet Muhammad told us so. Had he told us otherwise, we would have had to believe him.” He added, “Believing in Moses and Jesus does not imply the validity of Judaism and Christianity of today.”
The speech, which lasted for 40 minutes, addressed in detail the points Mufti Hassoun made afterwards in his attempt to clarify his outrageous remarks.

What is particularly troubling about the Mufti's remarks is that according to Jerusalem Post, the Israeli Radio Army aired Mufti Hassoun's statements to encourage Palestinians to protect Jewish settlers at the illegally occupied Palestinian territories.

Shaykh al-Yaqoubi ended his speech by asking Mufti Hassoun to resign his job out of embarrassment before Allah and His Messenger and protect the dignity ofIslam and the integrity of the Ulema of Syria.

On the following day, and as a result of his speech, Shaykh Muhammad al-Yaqoubi was sacked from his job as the Friday public speaker of al-Hasan Masjid in the affluent Abu Rummaneh neighbourhood in Damascus.
 
Shaykh Muhammad al-Yaqoubi is a world-renowned sufi scholar, a charismatic public speaker in both Arabic and English, and well known for his encyclopaedic knowledge and powerful style of delivery. Several of his speeches, including the speech from last Friday, can be found on YouTube.

Commenting on the decision to ban him from public speaking, Shaykh Muhammad said, “This is nothing for the sake of the Beloved of Allah, our Master Muhammad. The problem now is not whether I should be back to my job, but how to stop the Mufti of Syria from deforming Islam.”


Comments

Dr. Adi Setia said:

"That's sad, but on the other hand that should make us think, especially
the economists and economics-minded amongst us (of the critical, creative
kind), that we as a community, wherever we are, should be able to
structure a grassroots civil economy (a true mu'amalah) to support
conscientious scholars-alims like Shaykh al-Yaqoubi so that they can go on
maintaining their intellectual integrity and responsibility in the public
interest, and thereby avoid being employees of governments who care
nothing for the deen or for the Ummah. We are working on the mu'amalah
civil economy in Malaysia, please pray for our success."
As for me, I believe if Shaykh Muhammad Al-Yaqoubi understood the gravity of the current issue about the mis-translation of the word "Allah" by the Christians in Malaysia, I am sure he will defend it as he defended our beloved Prophet Muhammad (PBUH) againts the blasphemy of the Mufti of Syria. Some of our ulama' have turned softies notably the politico-ulama'. Lazy to do more research in understanding why we must say NO to them. Proposing a guideline is such a simplistic and naive argument what more when they start to politicize this matter as being portrayed by "confused and liberal" Little Napoleons in the Islamic party itself. This is non-sense and absurd.

Rabu, 27 Januari 2010

Wanderlust: Walking is Philosophizing



 

Since I don't own a car (yet), walking has been a major activity of my daily life.  Commuting from my hostel to the lecture theater,  or simply wandering around Jalan TAR has been my routine for the past 6 years. Through out this period of mobility, I can't simply shut off my mind from thinking about things that appear in my vision. Maybe some people would simply wandering heedlessly but for others walking is really a philosophizing activity to be enjoyed with. 

My former lecturer in UTP, Prof. Ahmad Murad Merican wrote an interesting article about this theme entitled "Walk the Thought". I used to come across the book entitled "Wanderlust" in the History section of Kinokuniya bookstore in KLCC but never bother much about it. But after reading Prof. Murad's article, now I realize, even a simple activity like walking and wandering could provide lots of benefits for our mind (and soul). 

Well in Islam we also have the concept of Rihla and mind you, this does not simply mean tourism in the secular sense where you lost touch from the Omnipresence. Maybe you would want to read Prof. Murad's article here to get a clearer picture about this topic.

Who says philosophy is only an armchair activity? 




Isnin, 25 Januari 2010

Nama Khas “Allah”: Persoalan dan Penyelesaian




oleh Dr Mohd Sani Badron (Pengarah Pusat Kajian Ekonomi dan Kemasyarakatan, IKIM)*

Orang-orang Kristian hendak menggunakan istilah “Allah” hanya dalam bahasa Melayu sahaja, dan tidak mahu menggunakan istilah yang sama dalam bahasa yang lain, seperti Inggeris, Cina atau Tamil.  Dengan itu, mereka mengaku tidak memerlukan istilah “Allah” untuk menjelaskan ajaran-ajaran Kristian dalam bahasa-bahasa yang lain, cukup dengan perkataan-perkataan lain sahaja.

Malangnya, apabila ajaran-ajaran Kristian hendak dijelaskan dalam bahasa Melayu, maka istilah “Allah” telah digunakan secara paksa.  Dikatakan “secara paksa” kerana, istilah “Allah” telah disumbat dengan pengertian yang berlainan.  Iaitu, pengertian yang benar-benar asing, yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh bahasa Melayu dan kamus hidupnya. 

Di samping bangsa Melayu, orang-orang Islam dari pelbagai kaum dan keturunan yang lain di Malaysia juga menggunakan istilah “Allah” dalam kehidupan mereka.  Mereka turut mendapati istilah “Allah” yang digunakan oleh orang-orang Kristian telah memaksakan makna yang teramat asing.

Makna asal istilah “Allah” ialah nama yang khas untuk Tuhan yang secara mutlak Maha Esa.  Tetapi makna yang dipaksakan Kristian ialah, apa-apa sahaja yang disembah secara yang sangat-sangat umum, lantas menodai makna asalnya yang murni.

Oleh kerana dalam agama Kristian tiada mekanisme dalaman (in-built mechanism) untuk mengawal penganutnya menggunakan istilah “Allah” khusus hanya kepada Tuhan, akibat ciri akidahnya yang Tiga-bersatu atau Triniti, istilah “Allah” akan digunakan oleh masyarakat Kristian sama seperti istilah God, iaitu sebagai gelaran umum. 


Penggunaan Kristian yang Umum
Akibatnya sangatlah parah.  Tidak semena-mena, istilah Allah akan mempunyai jamak yang digunakan kepada ramai, dan digunakan kepada banyak perkara atau benda.  Istilah Allah juga akan digunakan sebagai sifat atau ciri, sehingga taraf istilah tersebut akan menjadi lebih rendah daripada istilah “Tuhan”.

Pertama, ‘allah’ digunakan dalam bentuk ramai, iaitu para allah, yang digunakan kepada makhluk-makhluk syurga, seperti dalam ayat berikut, “Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi” (Mazmur, 82.1). 

Kedua, ‘allah’ akan digunakan kepada ramai manusia sekaliannya, seperti dalam ayat berikut, “Aku sendiri telah berfirman: Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian” (Mazmur 82.6).

Ketiga, ‘allah’ digunakan dalam bentuk banyak, untuk berhala-berhala: “Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit” (1 Tawarikh 16.26).

Keempat, istilah yang sama digunakan kepada Tuhan dan bukan Tuhan, seperti dalam ayat-ayat berikut.  “TUHAN adalah Allah yang besar...mengatasi segala allah” (Mazmur 95.3); “Akulah TUHAN, Allahmu....jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20.2-3); “mereka beribadah kepada allah lain” (Yosua 24.2); “Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (2 Tawarikh 2.5); “Bersyukurlah kepada Allah segala allah!” (Mazmur 136.2).

Kelima, istilah Allah disamakan dengan Yesus, yang juga seorang manusia, seperti dalam ayat-ayat berikut “...Yesus Kristus, yaitu Allah Mahabesar” (Titus 2:13); “Tomas berkata kepada Yesus: ‘Tuhanku dan Allahku!’” (John 20:28); “Kita hidup bersatu dengan Allah yang benar kerana kita hidup bersatu dengan Anak-Nya Yesus Kristus. Inilah Allah yang benar...” (1 John 5:20); “Yesus Kristus: pada dasarnya Ia sama dengan Allah” (Filipi 2:5-6).

Keenam, “Allah” digunakan tidak lebih daripada cuma sekadar sebagai sifat yang mencirikan seseorang, seperti dalam ayat “sebab dalam Dialah [iaitu dalam Kristus] berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Collosians 2:9). 

Jadi nama teragung ini telah digunakan dengan tunggang-langgang, sebagai istilah yang tarafnya lebih rendah daripada istilah Tuhan.  Padahal peraturan bahasa Melayu menetapkan tertib yang sebaliknya: “tuhan” itu sekadar nama gelaran kepada yang disembah (ilah) atau maha pencipta (rabb); “Allah” itu nama khas bagi Tuhan Yang Esa sekaligus Pencipta alam semesta.

Ketujuh, ‘allah’ digunakan kepada semua benda yang dipuja. Sehubungan ini, seorang Kristian Indonesia boleh menulis seperti berikut, “Allah cemburu kepada allah-allah yang bukan Allah. Tuhan tidak mau anak-anakNya mengikuti allah-allah yang bukan Allah.  Zaman ini ada beragam allah yang menguasai manusia, seperti: populariti, harta dunia, jawatan, ideologi, dan sebagainya. (Cari di sabdaspace.org)

Petikan yang terdapat dalam perkara pertama hingga keenam ada terkandung dalam Alkitab Terjemahan Baru 1974 (cetakan ke-65, 2006), iaitu versi yang masih berterusan digunakan di Malaysia, di samping versi semakan bahasa Melayu.  Jadi, ini fakta yang benar-benar telah berlaku di alam Melayu.

Bolehlah dibayangkan dalam beberapa contoh mudah, masyarakat Kristian mendakwa kerana ia terdapat dalam Alkitab, maka mereka ada hak kebebasan beragama untuk bertindak seperti  berikut.

Pertama, orang Kristian melukis gambar syurga dan menamakan para penghuninya “para allah”.  Kedua, seorang paderi Kristian berucap, dan memetik Alkitab, melaungkan kepada para hadirin, “Kamu manusia sekaliannya adalah allah”.  Ketiga, orang Kristian menamakan berhala-berhala itu “allah-allah” dalam percakapan, penulisan, lukisan dan sebagainya.  Keempat, di ikon (patung) Yesus, orang Kristian menyatakan secara lisan atau meletakkan label yang dipetik dari Alkitab, Titus 2:13, “Yesus, yaitu Allah Mahabesar”, atau dari Collosians 2:9, “Yesus, yang dalam jasmaniahNya berdiam ke-Allahan”.

Kesan, akibat dan pengaruh dari keadaan ini wajib diambil kira dengan cermat, sebelum kerajaan dan masyarakat Malaysia memperhitungkan langkah-langkah berikutnya.


Pemerkosaan Jiwa Bangsa
Membuka ruang kepada penggunaan istilah ‘Allah’ pada berhala, manusia, makhluk syurga, Yesus, dan lain-lain perkara dan benda, adalah satu pemerkosaan terhadap bahasa Melayu dan istilah utama Islam.  Ini adalah keganasan melampau terhadap batas makna yang sepatutnya, satu kebiadapan yang amat sangat terhadap bahasa, yang merupakan roh atau jiwa bangsa.  

Alasan bahawa ada dua ejaan yang berbeza, iaitu ‘allah’  dan ‘Allah’, adalah alasan yang tidak memadai.  Ini kerana, dari segi sebutan kedua-duanya sama sahaja tidak mungkin dapat dibezakan yang mana satu mana; begitu juga dalam tulisan Jawi.  Istilah yang sangat penting yang sepatutnya berperanan memudahkan penjelasan agama, tidak patut sebaliknya menjadi begitu kabur, menyukarkan kefahaman, dan menyusahkan kita pula.    

Apabila masyarakat Kristian Malaysia mendakwa orang-orang Kristian Arab pun menggunakan istilah “Allah”, umat Islam amat curiga dengan ketulusan alasan tersebut.  Ini kerana, Kristian Arab pun tidak pernah menggunakan jamak bagi “Allah”, kerana sememangnya istilah itu dari dulu, kini dan selama-lamanya tiada dua dan jamak.

Musyrikin Arab primitif yang sangat menentang Islam pun tidak pernah menggelarkan segala berhala allah, tidak pernah berkata kepada manusia “kamu sekalian adalah allah”, dan tidak pernah berkata “Allah berdiri di antara para allah”. Semua orang Arab tahu yang boleh ada istilah jamak hanyalah “Ilah” dan tidak “Allah”.  

Justeru, kegusaran umat Islam Malaysia apabila isu ini tersebar, seharusnya sudah dijangka oleh masyarakat Kristian.

Untuk menggambarkan keberangan masyarakat Islam, bayangkan peribaratan berikut.  Kalaulah istilah “Allah” itu umpama ibu yang paling dihormati dalam keluarga orang-orang Islam, maka ia bukan sahaja telah diperkosa pengertiannya, tetapi juga telah diliwat, bukan hanya sekali, tetapi secara bersiri, bukan hanya oleh seorang, tetapi oleh pakatan ramai perogol.

Dan apabila orang-orang Kristian memohon semakan mahkamah supaya hakim membenarkan perlakuan mereka sebagai selaras dengan Perlembagaan, maka tindakan ini adalah umpama mengisytiharkan kepada semua ahli keluarga mangsa, akan niat untuk membelenggu ibu tersebut dengan rantai besar dalam kurungan penjara, dengan maksud menjadikannya sebagai hamba seks selama mana yang para pemangsa tersebut mahu.

Mujurlah Islam dengan tegas mengharamkan para penganutnya daripada melakukan jenayah keganasan kepada penganut faham agama yang lain.  Dalam keadaan ini, masyarakat Islam amnya, dan Melayu khususnya, hanya bangun bertindak menuntut yang munasabah. 


Tuntutan Kaum Muslimin
Tuntutan masyarakat Islam adalah, jika istilah Allah hendak digunakan atas alasan bahasa Melayu, maka pengertian istilah “Allah” yang hendak digunakan mestilah tidak bercanggah dengan makna yang ada dalam bahasa Melayu. 

Yakni, makna yang tidak pernah berubah dalam kamus hidup dan debar denyut nadi Melayu semenjak seribu tahun yang lampau, mulai fasa pertama kedatangan Islam ke Alam Melayu pada abad yang ke-12.  

Makna istilah “Allah” dalam bahasa kebangsaan adalah khusus untuk Tuhan Yang secara mutlak Maha Tunggal, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan; satu pengertian yang menutup segala kemungkinan untuk nama tersebut digunakan secara umum hingga kepada berhala, manusia, makhluk syurga, Yesus, dan lain-lain perkara serta benda.

Malangnya pengertian tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh masyarakat Kristian, yang Tuhannya tidak mutlak Esa. 

Dalam konteks doktrin Triniti Kristian, yang disembah itu umum kepada oknum yang Tiga-bersatu (Thaluth).  Ia tidak mengatakan secara langsung God memiliki sekutu; tetapi Kristian percaya kepada persekutuan Godhead yang terdiri daripada tiga perkara co-eternal atau abadi, iaitu Bapa, Putera dan Ruhul Qudus.

Penggunaan istilah yang memberi erti Tunggal atau Esa kepada God adalah pantang-larang besar dalam agama Kristian.  St Hilary (m. 367) mengatakan bahawa orang Kristian perlu mengelakkan istilah God the “singular” (Yang Tunggal), kerana ia berlawanan dengan “konsep” God Kristian Yang essence-Nya, walaupun satu, namun God adalah umum bagi tiga hypostasis yang berbeza.

Pada pandangan St Thomas Aquinas pula, orang Kristian perlu mengelakkan istilah the only God (Yang Esa) kerana kata-sifat “only” (Latin unici) berlawanan dengan konsep berbilangnya hypostasis Tuhan. Menurut St Thomas Aquinas “We do not say ‘the only God,’ for Deity is common to many”, iaitu God umum kepada tiga perkara co-eternal tadi: Bapa, Putera dan Ruhul Qudus.


Tanggungjawab Umat Islam dan Pemimpinnya
Sebaliknya, Islam dan al-Qur’an mengajarkan bahawa, bukan manusia atau mana-mana makhluk yang mencipta nama “Allah” itu.  Tetapi, Allah sendiri menyatakan nama yang khas bagi-Nya ialah “Allah”, dan mewahyukan mengenainya kepada Nabi dan para hamba-Nya, semenjak dari Adam (al-Baqarah, 2: 109).

Justeru, memelihara “Allah” sebagai nama khas dengan sehabis upaya mereka adalah satu daripada ajaran Islam yang tidak diragui oleh seluruh kaum Muslimin yang faham.

Firman-Nya, “Dan Tuhanmu menjadikan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih (apa yang dikehendaki-Nya).  Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.  Maha Suci “Allah” dan Maha Tinggi Ia daripada apa yang mereka persekutukan”  (al-Qasas, 28: 68).

Apa makna Tuhan memilih apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada pilihan bagi manusia dalam ayat tadi?  Contoh pertama, dalam kategori manusia, Tuhan menjadikan Rasullullah sebagai lelaki pilihan, maka mengeji Baginda adalah satu jenayah.

Contoh kedua, dalam kategori generasi manusia, Tuhan menjadikan generasi para Sahabat sebagai generasi pilihan, maka mencaci para Sahabat adalah satu jenayah.  Contoh ketiga, dalam kategori undang-undang, Tuhan memilih shari‘ah yang ditanzilkan, maka menghina shari‘ah yang ditanzilkan adalah satu jenayah.

Begitulah juga, di antara nama-nama yang indah, Dia memilih kalimah “Allah” sebagai nama khas-Nya.  Memaksakan makna lain yang bercanggah adalah satu kesalahan besar, kerana itu bermaksud mempersenda dan mempermainkan maknanya yang khusus untuk Tuhan yang Maha Esa.

“Mereka yang mempersenda dan mempermainkan ajaran Islam” (al-Ma’idah, 5: 57)  wajib ditundukkan hinggalah mereka “merendahkan diri dan patuh, terikat kepada ketetapan Islam yang adil” (lihat al-Tawbah, 9: 29).  Melaksanakan keadilan itu bermaksud meletakkan tiap sesuatu pada tempatnya yang sebenar, termasuklah mengenai pengertian “Allah”.

Jadi jangan terkejut kalau orang-orang Islam pun akan menggunakan saluran perundangan supaya kemaslahatan dijaga oleh kepimpinan Negara.  Ini termasuklah Majlis Raja-Raja, Yang Di-Pertuan Agong, ahli-ahli Parlimen dan Dewan Undangan Negeri, dan para penggerak institusi-institusi, dari kalangan yang beragama Islam, dan bukan Islam yang memahami.  Amanah kuasa yang tersisa tentulah wajib digembling agar penggunaan istilah “Allah” yang mengeliru dan memperkosa maknanya boleh dihindari.

Setelah ribuan tahun istilah Allah secara konsisten digunakan oleh orang-orang Islam di Malaysia sebagai nama khas Tuhan, orang-orang Kristian tidak boleh kemudiannya memaksakan makna yang bercanggah, iaitu untuk menterjemahkan nama umum tuhan mereka (dan hanya dalam bahasa Melayu!).


Beberapa Kesilapan Fakta
Sebegitu dijaga istilah “Allah” itu sebagai nama khas, hingga ia tiada gantinya bagi umat Islam sedunia, dari awal sampai bila-bila.  Sama ada dalam dialek-dialek Arab, bahasa Farsi, Turki, Cina, Urdu, Eropah, Melayu atau sebagainya, tiada ditemui perkataan yang setara; mencerminkan tiada Hakikat yang setara.  “Allah” boleh diperikan sebagai “God” contohnya, tetapi “God” tidak boleh diterjemah sebagai “Allah”.  Ini selaras dengan peraturan, nama khas boleh diperikan dengan nama gelaran dan sifat, tetapi nama am tidak boleh sewenang-wenangnya diterjemah kepada nama khas sebagai kata-ganti setara.      

Sebagai nama khas Tuhan Yang Esa, “Allah” adalah istilah universal melampaui bangsa, dan bukan bahasa kebangsaan mana-mana bangsa. Sebab itu kamus-kamus yang muktabar mengenai bahasa Qur’ani merakamkan pandangan yang sahih, bahawa istilah “Allah” bukan perkataan terbitan daripada bahasa Arab. (Lihat sebagai contoh Kashshaf Istilahat al-Funun, 1: 139.)
   
Fakta di atas berlawanan dengan anggapan yang silap, bahawa istilah “Allah” adalah bahasa Arab, termasuk di kalangan sebahagian orang-orang Islam yang tidak memahami fakta tersebut.  Sebaliknya, “Allah” ialah nama khas.

Sebagai contohnya Mr. Bush ialah nama khas; kita tidak mengatakan ia bahasa Inggeris maka perlu diterjemahkan ke bahasa Melayu sebagai Encik Belukar atau Encik Semak.

Terdapat juga anggapan yang silap oleh orang-orang Kristian bahawa perkataan “Allah” itu terbit dari bahasa Ibrani El, Elohim, Eloah.  Ini anggapan yang berasaskan kepada andaian mereka bahawa, nama Allah itu hanyalah rekaan manusia sendiri, nama yang boleh digubah selaras dengan kemahuan diri, kelompok dan masyarakat setempat.

Kesangsian umat Islam semakin bertambah melihat masyarakat Kristian yang mendesak untuk menggunakan istilah “Allah” kononnya dalam bahasa Melayu, mengemukakan hujah yang berubah-ubah, sekejap melayang ke bahasa Arab, sekejap yang lain pula terbang ke bahasa Ibrani.  Andai dengan hujah tersebut masyarakat Kristian berniat menggolongkan bahasa Melayu itu dalam kategori yang sama dengan bahasa Jahiliyyah Arab dan Ibrani yang bercanggah dengan perutusan Nabi Muhammad, maka itu adalah satu penghinaan yang amat besar kepada kedudukan bahasa dan roh Melayu.   

Sebaliknya,  umat Islam dari pelbagai kaum mengemukakan hujah yang sama konsisten: “Allah” adalah secara ekslusif nama khas yang dipilih oleh Allah sendiri.  Sesiapa yang berhasrat menggunakan istilah tersebut dengan sewenang-wenangnya sebagai perkataan umum tidak dapat tidak adalah sengaja menjolok sensitiviti orang-orang Islam.


Biang-Bibit Kolonialis
Hakikatnya, kemelut yang membadai ini dimulakan oleh Penjajah yang menyebarkan Kristian dari zaman kolonial.  Penjajah yang melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap umat Melayu, dan memeras kekayaan alamnya hampir setengah abad, dalam masa yang sama menyebarkan ajaran Kristian dengan menyalah-gunakan istilah “Allah”.  Istilah yang jernih ertinya telah mereka keruhkan dengan tuba maknawi, dengan maksud untuk menangguk kesempatan.

Bermula dengan terjemahan Matius yang dicetak di Belanda dalam tahun 1629 oleh seorang Protestan, Albert Ruyl, diikuti dengan banyak lagi misionaris penjajah yang lain, kolonialis Kristian telah menyeludupkan makna “Allah”. 

Iaitu, penyeludupan makna yang bertentangan dengan penggunaan mantap 500 tahun sebelumnya di Alam Melayu sebagai nama yang khas milik Tuhan Yang secara mutlak Maha Esa.  Niat para penterjemah ternyata jelas “bagi tujuan penginjilan [penyebaran Kristian] dalam bahasa bukan Eropah”.

Di Malaysia, keputusan mengekalkan nama Allah khabarnya diputuskan oleh Ketua-Ketua Gereja 25 tahun yang lalu dalam mesyuarat pada tahun 1985 (tajaan Pertubuhan Alkitab Malaysia), iaitu sebelum Alkitab versi pertama Melayu Malaysia dikeluarkan dalam tahun 1987.  Malang sekali mereka gagal untuk membuka lembaran baru, dan mengembalikan hak istilah “Allah” kepada maknanya yang murni, sebelum ia dirompak dan dirosakkan oleh tangan berdarah para Penjajah.

Benih yang ditanam oleh para kolonialis, sekarang telah tumbuh sebagai pokok yang bobrok (shajarah khabithah), yang mengancam keharmonian Negara.  Seperti peribaratan dalam surah Ibrahim (14), ayat 27, “akarnya terbongkar tanpa sebarang tapak yang teguh”.  Iaitu, asal-usul istilah “Allah” yang sebegitu penting kononnya didakwa dari bahasa Ibrani melompat ke bahasa Arab, lantas meloncat sebegitu jauh ke bahasa Melayu, tetapi tidak pula dari bahasa Ibrani ke bahasa-bahasa yang lain seperti Belanda atau yang turut Kristian gunakan di Malaysia seperti Inggeris, Cina dan Tamil!   

Kenapa warisan kolonial yang tidak betul perlu diteruskan? Mentaliti terjajah perlu ditinggalkan, kerana sebagai rakyat Malaysia kita sudah merdeka.  Sepertimana tanah-air kita telah diserahkan kembali, begitulah juga pengertian “Allah” yang merupakan ibu segala istilah itu seharusnya dibebaskan dari belenggu makna yang dipaksakan oleh orang asing. 

Masyarakat Islam dan Kristian Malaysia boleh sama-sama berikhtiyar untuk membuang yang keruh dan mengambil yang jernih.  Bagai menarik rambut dari tepung, rambut jangan putus, tepung jangan berserak; persaudaraan seMalaysia jangan putus, keserasian kaum jangan retak.


Sinar di Hujung Terowong?
Sebenarnya, masyarakat Kristian tidakpun benar-benar perlu untuk menggunakan istilah “Allah”.  Terjemahan Bible versi Melayu Malaysia (the Bible Society of Malaysia: 2001) telahpun melangkah setapak ke hadapan, dengan mengubah beberapa terjemahan god tanpa perlu menggunakan istilah “allah”.

Sekadar beberapa contoh, mereka telah merobah “berdiri dalam sidang ilahi” kepada “mengetuai sidang di syurga”, “di antara para allah” kepada “di hadapan makhluk-makhluk syurga”, dan “      segala allah bangsa-bangsa adalah berhala” kepada “dewa-dewa bangsa lain hanya patung berhala.”  Pokoknya di sini, istilah “Allah” boleh diubah oleh masyarakat Kristian kepada istilah yang lain yang lebih wajar dengan pandangan alam mereka.

Oleh kerana masyarakat Kristian sememangnya mengandaikan bahawa nama dan istilah itu hanyalah ciptaan manusia yang boleh dirobah selaras dengan keperluan semasa, tentulah sekarangpun mereka berkemampuan untuk mengubah penggunaan istilah “Allah” yang telah menyalakan kontroversi itu. 

Sementelahan pula, dalam bahasa Melayu memang terdapat perkataan-perkataan umum lain yang lebih wajar untuk menterjemah faham Triniti atau Tiga-bersatu.  Contohnya, istilah Ilah/ilah dan Ilahi/ilahi serta Ke-Ilahian, atau sebagainya yang lain, yang tentunya boleh difikirkan dengan kreatif. 

Jadi, punca kepada masalah ini adalah sekaligus merupakan kunci untuk menyelesaikannya: iaitu pegangan asasi oleh masyarakat Kristian, bahawa sesuatu istilah boleh diguna atau ditolak bergantung kepada kemahuan sendiri.  

Andai masyarakat Kristian, atas semangat muhibbah, bersetuju dengan cadangan tersebut, maka dijangkakan keresahan masyarakat Islam pelbagai kaum pun akan reda juga.  Mengambil-kira masalah ini turut melibatkan warisan penjajah, tentulah puak Kristian Malaysia boleh diberi tempoh yang munasabah, untuk secara secepat yang boleh tetapi beransur-ansur tidak lagi menyalah-gunakan istilah “Allah” dalam sebarang sebaran dan penerbitan.

Pada hakikatnya, tiada siapa pun yang berhak menyalah-gunakan istilah bahasa, apatah lagi kalimah Allah.  Sebarang alihbahasa yang merosakkan aturan perkataan (sintaksis) dan melanggar nahu akan membawa pengertian yang salah dan mengelirukan kerukunan antara agama.

Sekiranya “Belief in God”, iaitu salah satu Rukun Negara diterjemah sebagai “Kepercayaan kepada Allah” tentulah kacau masyarakat majmuk kita yang mempunyai pelbagai ragam kepercayaan. 

Kalau “church” atau “temple” boleh dipanggil sebagai “baytAllah” atau “masjid” tentulah kalut masyarakat Malaysia yang berbilang rumah peribadatan ini.  Kalau “priest” pula boleh digelar sewenang-wenangnya sebagai “imam”, maka kita risau dan rakyat akan kacau yang mana satu topekong yang mana satu mufti.


Kristian Berpecah-Belah
Sebenarnya orang Kristian sendiri pun tidak bersatu dan berpecah-belah dalam penggunaan istilah “Allah” ini, sama ada di Eropah, di negara-negara Arab, ataupun di Indonesia.

Walaupun kolonialis dan misionaris Belanda yang memulakan salah-guna istilah Allah di alam Melayu, satu kaji-selidik masyarakat Kristian Belanda di pertengahan 2007 mendapati 92% daripada lebih 4,000 responden tidak bersetuju menggunakan “Allah” sebagai nama Tuhan (God) Kristian.  

Ada responden yang menjawab, kalau God orang Kristian boleh dipanggil Allah, maka Gereja pun boleh dipanggil Masjid; sedangkan tiap-tiap satunya—Allah, God, Masjid, Gereja—ada identiti dan makna tersendiri.  Justeru seorang paderi Katolik di Rom, Father Jonathan Morris, menegaskan bahawa ia perlu ditolak kerana ini adalah isu teologi dan bukan isu toleransi.  Pertubuhan terbesar Katolik Belanda membantah cadangan tersebut dan menyatakan bahawa hanya orang-orang Katolik yang bengong sahaja (“addlepated Catholics”) yang akan melakukan perbuatan yang dianggap cuba mengampu agama lain ini.  Apakah Pope Benedict XVI setuju Kristian Katolik memanggil Tuhan menggunakan nama “Allah”?    

Apabila Dr Labib Mikhail, seorang ahli polemik Kristian Arab sendiri ditanya, “is Allah of the Muslims the God of Christians?” Beliau menjawab : I would say it can’t be that way…If we compare between the God of the Christians, and Allah of the Muslims and of the Qur’an, we will see a lot of differences…in the attributes…in the commandment…in the plan of salvation…the godhead.”

Di Indonesia, ramai orang Kristian sendiri mengakui bahawa meminjam istilah Allah untuk terjemahan God, dan memaksakan memberinya makna baru yang berbeda dari nama khas, adalah kekacauan bahasa yang sangat-sangat membingungkan mereka. 

Rujuk, contohnya, tulisan-tulisan seorang Kristian Indonesia, Petrus Wijayanto “Allah hanya milik Islam”; “Nama Allah yang diperdebatkan”; “Siapa yang Anda Sembah” dan sebagainya.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini juga Indonesia rancak dengan gerakan kelompok Kristian yang ingin menggunakan nama Yahweh dan bukan Allah, hingga menerbitkan empat versi lain terjemahan Bible. 

Khabarnya terdapat sekitar 200 Gereja dan sangat ramai tokoh Kristian di Indonesia yang tidak mau lagi menggunakan istilah Allah kerana mereka sendiri berasa keliru.


Kesimpulan
Kesilapan yang ada di pihak Kristian sememangnya boleh diperbetulkan secara yang sangat muhibbah meskipun bukan dalam tempoh sehari-dua.  Lebih cepat ini diakui, lebih pantas kita boleh menyusun langkah wajar yang seterusnya. 

Sementara itu, hala-tuju umat Islam cuma ada satu.  Iaitu, ke arah penggunaan nama “Allah” yang khas hanya milik Tuhan Yang secara mutlak Maha Esa.  Istilah “Allah” tidak boleh digunakan untuk ramai atau banyak perkara; ia menafikan Triniti. Ini mandat yang diamanahkan daripada Kalam-Nya.

Daftar Rujukan (terpilih)

1.   Al-Qur’an al-Karim.

2.   Tafsir al-Baydawi, terj. ‘Abd al-Ra’uf Singkel.

3.   Rahmah min al-Rahman fi Tafsir wa Isharat al-Qur’an, peny. Mahmud Mahmud al-Ghurab, 4 jil. (Damsyik: Matba‘ah Nadr, 1410/1989), 1: 19, 109.

4.   Ibn al-‘Arabi, Ijaz al-Bayan fi al-Tarjamah ‘an al-Qur’an (Damsyik: Matba‘ah Nadr, 1410/1989), 21.

5.   Al-Khalil b. Ahmad al-Farahidi (m. 175 A.H.), Tartib Kitab al-‘Ayn, eds. Mahdi al-Makhzumi and Ibrahim al-Samara’i, semakan As‘ad al-Tayyib (t.t.: Intisharat Aswah, 1414), 1: 98.

6.   Murtada al-Zabidi (m. 1205/1790), Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, 10 jil., cetak-ulang. Kaherah ed. 1306-07 (Beirut: Dar Sadir, s. 1980), 9: 375. Ed. baru 40 jil. peny. Dahi  ‘Abd al-Baqi, semakan ‘Abd al-Latif Muhammad al-Khatib (Kuwait: al-Majlis al-Watani li ’l-Thaqafah wa ’l-Funun wa ’l-Adab, 2001/1422), 36: 321-322.

7.   Al-Tahanawi, Kashshaf Istilahat al-Funun, dengan catatan penjelasan Ahmad Hasan Basaj, 4 jil. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418/1998), 1: 138-139.

8.   Al-Fayruzabadi, al-Qamus al-Muhit, 2 jil. (Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, 1997), 2: 1631.

9.   Dr Syed Ali Tawfik al-Attas, “Kemelut Pemikiran Agama,” Mingguan Malaysia, 6 Januari 2008.

10. Md. Asham Ahmad, “Kalimah Allah: Antara Nama dan Hakikat.” Kertas-Kerja Muzakarah Pakar Terjemahan God sebagai Allah: Punca Permasalahan dan Penyelesaiannya, 21 Januari 2010.

11. Saint Thomas Aquinas, The Summa Theologica. I Q31 Art. 2.

12. Alkitab Terjemahan Baru, 1974.  Cetakan ke-65, 2006.

13. Alkitab Berita Baik, 2001.

14. Daud Soesilo, “Terjemahan Alkitab Melayu dan Indonesia: Dulu dan Sekarang”.
 __________________________________________

 * Pada hemat saya, hujah Dr. Sani Badron ini cukup untuk menangkis kesalah fahaman dan kekeliruan yang timbul dikalangan ilmuan Islam yang menyokong penggunaan nama Allah begitu juga pihak gereja Katolik.


Rujuk juga pandangan Dr. Adian Husaini, dalam artikel beliau Masalah Kata”Allah” di Malaysia dan Indonesia (Siapa Pelanjut agama Ibrahim?) –(1)



Sabtu, 23 Januari 2010

Pemerhatian: Diskusi Isu Kalimah Allah Bersama Politikus


Malam semalam (18 Januari 2010), saya berkesempatan menghadiri satu sesi perbincangan tertutup berkenaan isu penggunaan kalimah Allah oleh orang bukan Islam di kediaman Ketua Umum PKR. (Berita di sini) Turut hadir pada malam itu adalah para pemimpin PKR dan PAS. Perbincangan yang berlanjutan hampir tiga jam itu berjalan dengan agak baik, tetapi saya dan rakan-rakan agak kecewa dengan banyak hal, terutamanya yang berkaitan dengan ‘mentaliti’ dan ‘sikap’ orang-orang politik. Saya rumuskan perbincangan yang berlangsung pada malam tersebut dalam beberapa perkara penting yang saya senaraikan di bawah;


1)
Hujah-hujah yang bersifat ilmiah dan intelektual, khususnya yang melihat daripada aspek teologi, falsafah bahasa, serta latar sosio-budaya, ternyata sukar diterima oleh ahli perbincangan pada malam itu yang rata-ratanya sudah membuat keputusan masing-masing. Sikap yang ditunjukkan oleh beberapa pemimpin politik yang memperlekeh pandangan intelektual, menolak pandangan dari sudut falsafah bahasa dan mengenepikannya mentah-mentah ternyata mengecewakan. Malah, lebih mengecewakan kerana majoriti pandangan yang dikemukakan oleh orang-orang parti politik yang terlibat pada malam itu lebih bersifat ‘pandangan’ dan ‘pendapat’ yang seolah-olah dibuat tanpa melakukan penelitian, kajian, serta pembacaan yang lebih meluas dan mendalam. Banyak hujahan yang simplistic dilontarkan, semata-mata untuk mempertahankan pandangan kelompok mereka.



2)
Sikap segelintir kecil orang-orang politik yang terlibat di dalam perbincangan tersebut yang gemar menggunakan hujah daripada nas Al-Qur’an dan Al-Hadith, walaupun mereka bukanlah orang yang berkelayakan dalam bidang agama atau tidak pernah mempelajari agama secara serius melalui sistem pengajian yang serius (bukan melalui bacaan satu-dua buku, bukan melalui kajian Internet, bukan melalui ceramah-ceramah, tetapi melalui kelas-kelas pengajian yang ada gurunya), membayangkan keangkuhan mereka. Ayat-ayat yang digunakan, serta sanggahan terhadap penggunaan ayat itu sebagai dalil membenarkan penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam, telah disentuh oleh Mohd. Aizam bin Mas’od di dalam artikel bertajuk “Hujah Menolak Penggunaan Kalimah ‘Allah’ Oleh Kristian”.



3)
Pendirian ‘tidak rasmi’ Pakatan Rakyat seperti yang diumumkan oleh DSAI pada permulaan sesi perbincangan, yakni untuk menyokong penggunaan kalimah Allah oleh orang bukan Islam di negara ini, antara lain – menurut DSAI – dikukuhkan dengan pandangan yang diterima daripada Dr. Yusuf Qardhawi dan Dr. Wahbah Zuhaili. Hal ini ternyata mengecewakan dan membayangkan seolah-olah orang-orang politik tersebut ‘miskin’ dengan jaringan para ‘ulama. Mendengar pandangan daripada dua orang tokoh tersebut, dan kemudian terus membuat suatu keputusan (saya katakan keputusan kerana kenyataan telah dikeluarkan dalam media) adalah merupakan perkara yang tidak sihat dan sebenarnya telah menutup pintu untuk menerima pandangan-pandangan lain. Ya, kedua-dua tokoh itu adalah tokoh besar di dalam dunia Islam tetapi dunia Islam mempunyai ribuan ‘ulama. Di Malaysia sahaja kita mempunyai begitu ramai ‘ulama yang hebat dan luas ilmunya. Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin al-Maliki, sebagai contoh, seorang ‘ulama muda tempatan yang kitab-kitab karangan dan terjemahannya sudah mencapai 300 buah, malah ada di antara kitab-kitab beliau yang digunapakai di universiti-universiti dan pusat-pusat pengajian di Mesir.



4)
Sesi perbincangan tersebut dilihat agak ‘tidak adil’ dan bersifat ‘syok sendiri’. Hal ini demikian kerana ahli perbincangan tersebut tidak cukup ‘diverse’. Majoriti ahli perbincangan adalah merupakan orang-orang parti politik masing-masing. Beberapa orang ahli akademik yang menghadiri perbincangan tersebut pula adalah merupakan kenalan lama kepada para pemimpin parti politik tersebut, sehingga menjadikan pandangan dan pendapat mereka agak ‘reserved’ dan terlalu berhati-hati. Agak mengecewakan kerana banyak di kalangan individu-individu yang autoritatif di dalam hal ehwal agama, terutama di kalangan ilmuan yang membantah penggunaan kalimah Allah oleh orang bukan Islam, tidak dipanggil dan dilibatkan sekali. Seolah-olah, yang mereka iktiraf sebagai ‘ulama dan ilmuan hanyalah daripada circle mereka sahaja. Sedangkan, ada ramai ‘ulama dan ilmuan yang mampu memberikan pandangan secara ilmiah dan bernas – dan jika benar mereka mahu menegakkan semangat muzakarah demi mencari kebenaran, maka seharusnya mereka dilibatkan sekali.



5)
Sikap politik kepartian yang tidak matang ternyata masih menebal. Biarpun sesi perbincangan tersebut – menurut yang difahamkan kepada kami – adalah sesi perbincangan ilmiah yang bertujuan untuk membincangkan isu tersebut secara sihat demi mencari penyelesaian kepada dilema yang sedang berlaku, tetapi ternyata orang-orang politik yang terlibat di dalam perbincangan tersebut – tua atau muda – semuanya masih ‘terperangkap’ dalam kerangka politik kepartian yang tidak matang. Biarpun beberapa kali disebutkan agar isu ini tidak dijadikan sebagai isu politik, tetapi ternyata pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh orang-orang politik pada malam itu majoritinya berdasarkan kepada kacamata ‘politik menang-kalah’; soal populariti parti, soal memenangi undi masih lagi menjadi timbang tara yang melebihi timbang tara ilmiah. Malah, perbincangan yang seharusnya ilmiah itu acapkali menjadi sesi mengutuk UMNO dan kerajaan. Ketua Umum PKR sendiri, pada hemat saya, agak emosional dan sangat terikat dengan pertimbangan politik dalam menilai pandangan-pandangan yang dikemukakan. Keadaan ini ternyata mengecewakan kerana sikap sebegini merugikan umat, kerana sikap ini menjadikan seolah-olah segala yang datangnya daripada UMNO itu dilihat oleh PAS-PKR sebagai ‘najis’ dan begitulah sebaliknya.



6)
Apa yang agak mengecewakan dan merisaukan juga adalah apabila DSAI mengeluarkan kenyataan supaya isu penggunaan nama Allah ini tidak dipanjangkan kerana banyak isu lain yang ‘lebih penting’ seperti isu kezaliman pemerintah, rasuah dan sebagainya yang perlu diberikan penumpuan serius. Saya agak terkesima dengan kenyataan tersebut, yang membayangkan satu kecelaruan dalam pandangan alamnya. Isu nama Allah ini berkait rapat (jika pun tidak berkait secara langsung) dengan usuluddin, dengan asas agama – kerana yang dibincangkan di sini adalah nama Tuhan kita! – justeru persoalan yang berkaitan dengan ‘aqidah umat Islam (walaupun mungkin tidak berkaitan secara langsung) haruslah diberikan keutamaan. Kenyataan DSAI itu membayangkan seolah-olah untuk ‘bertarung’ dengan orang Islam (kerajaan UMNO) itu lebih penting daripada bersatu bersama umat untuk ‘bertarung’ menentang orang bukan Islam (gereja Katolik).



Agaknya, memang sukar untuk merubah masyarakat menjadi masyarakat yang benar-benar berbudaya ilmu. Agaknya juga, masih ramai yang tidak memahami bahawa politik bukanlah penyelesaian terbaik kepada segala permasalahan umat yang wujud pada hari ini. Mungkin juga, ramai yang masih belum memahami bahawa asas kepada penyelesaian permasalahan umat, dan seterusnya untuk membina tamadun umat Islam yang terbaik, adalah pada persoalan ‘aqidah – soal pembentukan pandangan alam Islam yang benar dan jelas.


Saya pasti ulasan ini tidak popular. Mohon maaf jika ada sesiapa yang terasa. Semoga Allah mengurniakan hidayah-Nya kepada kita semua dan melimpahi Rahmat-Nya kepada kita tanpa putus.


Komentar:


Walaubagaimanapun, dalam Muzakarah pakar isu nama Allah anjuran IKIM yang dihadiri oleh Dr. Mohd Nor Manuty (PKR) dan Tuan guru Hj Abdul Hadi Awang (PAS) telah memutuskan untuk menolak penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam. Berita di sini.


Lihat juga "cara" DSAI "ulas" isu ni di bawah: