Selasa, 7 Julai 2009

Pemimpin


Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi


Suatu ketika Zia ul Haq, Presiden Pakistan tahun 1977-1989, mengumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan editorial surat khabar the Nation. “Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara” , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu menjawab “Politikus”. Zia tersenyum mendengar jawapan itu lalu berkata, ”Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu”. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, ”Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual”. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.


Jeneral Zia Ul Haq. Macam biasa, pemimpin Islam Pakistan yang berpotensi pasti "dibunuh/terbunuh" (konspirasi?)



Zia ul Haq berfikir induktif. Di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politikus. Pakistan merdeka daripada India berkat terutama inspirasi Mohammad Iqbal. Selain itu terdapat nama-nama seperti Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan dsb. Semua itu adalah intelektual. India merdeka daripada jajahan Inggris karena kekuatan inspiratif Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Nampaknya, dari kasus dikedua negeri itulah kesimpulan Zia tercetus.



Rabindranath Tagore: Iqbal versi India.

Tapi kesimpulan Zia boleh jadi universal. Kita pasti setuju bahwa Indonesia dibangun diantaranya oleh HOS Cokroaminoto adalah guru inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan berdasarkan Islam. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Pencetus Gerakan Budi Utomo berwatak Jawa. Agus Salim digelari Soekarno ulamaintelek, aktor intelektual dari gerakan kemerdekaan Indonesia. KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir serta sejumlah Ulama dan intelektual lainnya. Mereka itu adalah
intelektual yang berpolitik dan politikus yang intelek. Soekarno dan Hatta sendiri sebenarnya adalah intelektual. Mereka itulah the founding fathers negeri ini. Jika ini disepakati, maka Zia ul Haq adalah benar. Negeri kita juga tidak didirikan oleh para politikus, tapi para intelektual yang bervisi politik.



Gordon S Wood dalam buku
The Public Intellectual menganggap the founding fathers sebagai men of ideas and thought, leading intellelctual sekaligus political leaders. Tapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politikus an sich atau intelektual murni seperti dalam pengertian moden yang sekerat (partial). Mereka itu adalah intelektual yang tidak terasing dan pemimpin politik yang tidak ghairah oleh pilihan raya. Mereka hidup dalam dunia idea dan realiti dunia politik tapi tidak utopian dan juga tidak pragmatis.



Bagi Leonard Peikoff, dalam
The Ominous Parallels, "The Founding Fathers" tidak hanya memiliki idea-idea revolusioner, tapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam realiti sosio-politik. Ayn Rand dalam bukunya For the New Intellectual menjuluki mereka sebagai "thinkers who were also men of action". Menurut John Locke merekalah yang mendirikan negara sebagai institusi yang khas. Inilah yang dimaksud Zia ul Haq.



Begitu idealkah mereka? Benar, karena
al-fadhlu lil mubtadi walau ahsana al-muqtadi. Pujian diberikan kepada pembuka jalan, meski sang penerus bisa lebih baik. Buktinya generasi sekarang melihat mereka bagaikan mitos, tapi historis. Mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti. Petua mereka digugu tapi integriti mereka tidak dapat ditiru. Gordon juga mengkiritik, kita terlalu banyak memuji tapi tidak banyak memahami. Memahami mengapa generasi zaman revolusi bisa begitu, sedang generasi sekarang tidak. Mengapa idealisme dan politik tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik bererti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah takhta yang tak bererti tanpa ilmu, akhlaq dan tujuan.



Samuel Eliot Morrison and Harold Laski, keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah moden, tidak ada period yang kaya dengan idea-idea politik yang memberi banyak sumbangan kepada teori politik Barat. Ini menurut Gordon S Wood disebabkan oleh
kualiti intelektual dalam kehidupan politik masa kini yang turun drastik. Idea telah dipisahkan dari kekuasaan. Dan itu semua adalah harga yang harus dibayar oleh sistem demokrasi, tulisnya.



Kalau Gordon beragama, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme. Agama “tidak mesti bisa” menjadi bekal berpolitik. Prinsip “Jangan bawa agama ke ranah politik” seperti sudah menjadi konvensional. “Berpolitik tidak bisa hitam putih” bererti berpolitik tidak harus ilmiah. Benar salah dalam dunia akademik tidak menjadi ukuran. Rumusannya bisa begini, ”Politikus boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Inilah sebabnya mengapa seorang profesor dan ulama tidak “mudah” mengikuti logika politik.



Singkatnya, tidak bererti penerus tidak bisa berfikir revolusioner. Dalam sejarah Islam para khalifah umumnya memiliki
ghirah ilmiyyah. Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah penerus yang sangat revolusioner. Adh-Dhahabi menyebutnya ulama yang amilin, artinya juga alim yang amir. Ia mampu mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan sekaligus. Ia membangun politik dan juga peradaban. Rakyatnya tidak layak menerima zakat karena sejahtera lahir dan batin. Keintelektualannya adalah dasar dari keadilannya. Ilmunya menjadi bekal amalnya. Itulah umara-ulama yang dapat menjadi cahaya (misykat) bagi umat manusia. Wallahu a’lam.


Penulis merupakan Direktor
Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Gontor dan juga Direktor Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS). Pada tahun 2006, beliau menerima Phd daripada International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic University of Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia dengan tesis bertajuk Al-Ghazzali's Concept of Causality With Reference to His Interpretation of Reality and Knowledge.


Tentang disertasi Hamid Fahmy Zarkasyi


Pada 6 Ramadhan 1427 (29 September 2006), Hamid Fahmy Zarkasyi telah berjaya mempertahankan disertasinya di depan panel penguji
International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic University of Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia, yang terdiri dari Prof Dr Osman Bakar, Prof Dr Ibrahim Zein, Prof Dr Torlah, dan Prof Dr Alparslan Acikgenc. Untuk itu Hamid berhak menyandang gelar doktor (PhD).

Alparslan Acikgenc sebagai penguji luar, memuji disertasi Hamid bertajuk
Al-Ghazzali's Concept of Causality sebagai kajian yang memberi sumbangan penting pada sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep sebab-akibat (causality) al-Ghazzali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini dilewatkan oleh kebanyakan cendekiawan pengkaji al-Ghazzali.


Konsep sebab-akibat al-Ghazzali menjadi popular karena ia merupakan bahagian (masalah ke-17) dalam
Tahafut al-Falasifah. Di situ ia menyatakan bahwa "Apa yang selama ini dianggap hubungan sebab dan akibat bagi kami adalah tidak pasti (ghayr dharuri)." Karena penolakannya terhadap kepastian hukum sebab-akibat itu maka Ibn Rushd menuduhnya telah menolak ilmu pengetahuan, sebab katanya sumber ilmu pengetahuan adalah daripada konsep sebab-akibat.


Kritikan Ibn Rusyd terhadap
Tahafut al-Falasifah dalam Tahafut al-Tahafut khususnya dalam soal sebab-akibat dipersetujui oleh beberapa cendekiawan Muslim kontemporer. Makanya al-Ghazzali pun dituduh sebagai pembawa kemunduran sains dan falsafah dalam Islam. Padahal disertasi kedoktoran Michael Marmura telah membuktikan bahwa Ibn Rushd salah faham terhadap al-Ghazzali. Malangnya kesalah fahaman ini dipakai lagi untuk menyimpulkan bahwa pemikiran Ibn Rushd di ambil Barat sehingga Barat menjadi maju, sedangkan pemikiran al-Ghazzali diambil oleh umat Islam sehingga mundur.


Kenyataannya, pemikiran al-Ghazzali yang menyatakan bahwa hukum sebab-akibat itu tidak pasti, justeru diambil dan dikembangkan oleh Malebranche dan David Hume di Barat. Sedangkan metod skeptiknya serta prinsip-prinsip epistemologinya diubah suai oleh Descartes. Sementara itu pemikiran Ibn Rushd yang diambil Barat adalah teori kebenaran gandanya.
Teorinya itu menurut teolog neo-Thomist, Etienne Gilson, menjadi akar rasionalisme di Barat. Tapi pada saat yang sama dipakai para deis untuk menentang wahyu, dan memberi sumbangan kepada lahirnya sekularisme.


Berbeda dari Ibn Rusyd, al-Ghazzali membawa konsep integrasi fizika dan metafizika, sains dan teologi atau agama dan sains. Ini jika konsep al-Ghazzali itu difahami dengan 'paradigma' yang berbeda dari Ibn Rushd, tapi
bukan dengan teori paradigma Thomas Kuhn. Paradigma atau framework untuk memahami konsep sebab-akibat al-Ghazzali teori worldview (pandangan hidup atau pandangan alam).


Framework ini telah diaplikasikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam konsep Islamisasinya atau oleh Prof. Alparslan Acikgenc dalam memahami konsep sains Islam.
Di Barat, konsep ini digunakan Thomas F Wall untuk kajian falsafah, dan Ninian Smart untuk perbandingan agama. Iaitu dengan mengkaji suatu konsep dalam kaitannya dengan keseluruhan konsep yang terstruktur.


Dengan
framework ini posisi al-Ghazzali menjadi jelas, bahawa ia melihat sebab-akibat pada realiti fizik sebagai sebahagian daripada realiti metafizik. Bahkan realiti makhluk yang relatif itu tergantung kepada realiti metafizik yang mutlak. Al-Ghazzali membela konsep Tuhan Maha Pencipta. Proses penciptaan-Nya tertuang dalam Asma al-Husna, iaitu al-Khaliq, al-Bari, al-Musawwir. Kerana itu sebab-akibat pada alam semesta ini, meskipun telah ditentukan sejak awal penciptaannya, ia tetap tergantung pada Kehendak Tuhan dan tidak berjalan sendiri secara alami. Ini berseberangan dengan para failasuf yang membela konsep limpahan, di mana hubungan Tuhan-makhluk bukan dengan perantaraan aksi (fi'il) Tuhan tapi melalui proses limpahan (emanation) yang pasti (necessary) dan hukum sebab-akibat pada fenomena alam inipun akhirnya berjalan sendiri secara pasti.


Bantahan al-Ghazzali terhadap kepastian hukum sebab-akibat bukan tanpa alasan. Sebab kepastian bentuk hubungan (
wajh al-iqtiran) sebab-akibat itu tidak dapat dibuktikan secara empiris. Yang ada hanya pengalaman bahwa setiap ada sebab biasanya diikuti oleh akibat (nafs al-iqtiran). Inilah yang ditiru oleh David Hume. Tapi, berbeda dari Hume, al-Ghazzali menganggap apa yang kita saksikan sebagai kebiasaan ('adah) sebab-akibat ini tunduk pada kehendak Allah.


Posisi al-Ghazzali dalam masalah ini berada di antara
mutakallimun dan falasifah. Al-Ghazzali menggunakan teori jawhar (atom) para mutakallimun (Asy'ariyyah dan Mu'tazilah). Segala benda dan makhluk di dunia ini terdiri dari substansi (jawhar) dan aksidensi ('ard). Dan semua itu diciptakan Allah secara terus menerus (dawam al-khalq wa al-in'idam). Tapi ia tidak sependapat dengan mutakallimun yang menolak adanya sebab-akibat. Al-Ghazzali justeru sepakat dengan falasifah bahwa di alam semesta ini terdapat hukum sebab-akibat. Hanya saja ia tidak sependapat dengan falasifah yang mengatakan bahwa hubungan sebab dan akibat dalam alam semesta ini adalah pasti. Di mana ada sebab pasti di situ akan ada akibat. Setiap api (sebab) pasti membakar (akibat). Bagi al-Ghazzali ini akan membatasi kekuasaan Tuhan. Ertinya dengan menerapkan konsep Aristotle ini maka hubungan antara alam semesta dengan Tuhan menjadi tidak langsung. Tuhan tidak mempunyai peranan langsung dalam mengatur kejadian alam yang berupa sebab akibat ini. Dengan teori ini bererti hukum-hukum alam ini berjalan sendiri tanpa peranan langsung Tuhan.


Pandangan
falasifah sejalan atau bahkan dapat dikatakan berasal dari konsep limpahan di mana Tuhan sebagai Sebab Pertama dan Makhluk sebagai akibat berkaitan secara pasti. Dari Penyebab Pertama ke akal pertama hingga akal ke sepuluh merupakan kaitan serial yang pasti (necessary). Namun, dalam teori ini akhirnya Tuhan tidak lagi berkaitan langsung dengan dunia material, termasuk dalam menentukan hubungan sebab-akibat.


Kajian tentang perdebatan al-Ghazzali dan para
falasifah ini tidak dapat didekati dalam perspektif jadali. Ia lebih tepat didekati dengan teori atau framework worldview. Dengan menggunakan falasifah ini, konsep sebab-akibat al-Ghazzali ditelusuri dari konsepnya tentang Tuhan, yang merupakan realiti Mutlak, konsep alam, konsep manusia dan konsep ilmu. Kesemuanya itu diperlukan sebagai matriks perbedaan.


Dari matrik sini maka dapat diketahui bahawa dalam konsep al-Ghazzali sebab-akibat di dalam realiti fizik dilihat dalam kaitan dengan realiti metafizik. Bahkan sebab-akibat di dunia fizik sebagai bahagian daripada sebab-akibat dalam realiti metafizika. Jika demikian maka
ilmu pengetahuan tentang fenomena fizik yang empiris tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan metafizik. Ini bererti bahwa sains merupakan sebahagian daripada teologi. Inilah landasan dari teori sebab-akibat al-Ghazzali yang secara diametrikal bertentangan dengan pandangan sains Barat modenn yang terpisah dari metafizika (teologi).


Tapi dapatkah kita memperoleh pengetahuan dari hukum kausalitas yang mungkin dikaitkan dengan realiti metafizik. Menurut al-Ghazzali dapat, sebab ia memiliki prinsip integrasi bahwa setiap ilmu pengetahuan agama adalah rasional dan setiap pengetahuan rasional adalah bersifat spiritual. Dalam proses epistemologinya ia menggunakan metod demonstrasi (
al-burhan) para filsuf yang ia modifikasi agar sejalan dengan prinsip-prinsip sebab-akibatnya. Walhasil, pengetahuan yang diperoleh daripada sebab-akibat dalam fenomena alam itu tidak pasti (daruri/necessary), tapi hanya sebatas "tentu" (certain). Jadi tuduhan Ibn Rushd bahwa al-Ghazzali menolak ilmu pengetahuan ternyata tidak benar.


Tesis yang pada mulanya di bawah bimbingan Prof. Syed Muhamman Naquib al-Attas ini diteruskan oleh Prof Dr Cemil Ackdogan, pakar sains Islam asal Turki. Tesis ini seperti harapan penulisnya, dimaksudkan untuk memberi sumbangan awal bagi proses Islamisasi sains kontemporari.

sumber:
blog tafsir al-quran al-karim.




Komentar:


Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi merupakan salah seorang daripada sekumpulan anak murid Prof. al-Attas yang giat menentang pengaruh Islam Liberal di Indonesia. Ternyata artikel ini walaupun tidaklah menceritakan perihal falsafah, tetapi seperti siri artikel lain yang di tulis oleh Dr. Fahmy Zarkasyi, memperlihatkan ketajaman dan kedalaman berfikir yang dipugar sewaktu pengembaraan intelektual beliau khususnya sewaktu di ISTAC. Manifestasi kekuatan intelektualisme beliau dan rakan-rakan anak murid Prof. al-Attas yang lain adalah INSISTS yang menjadi institusi utama benteng menyekat arus liberalisasi agama di Indonesia.


Artikel ini wajar dijadikan bahan permulaan kepada rujukan lebih lanjut berkenaan pengaruh idea dalam meluncurkan revolusi massa yang bebas daripada penipuan durjana slogan kosong ciptaan politikus murahan.


P/S: Saya baru sahaja menerima tempahan khas buku Tahafut al-Falasifah yang diterjemahkan oleh Prof. Michael E.Marmura daripada Kinokuniya dengan harga RM188.90!!!!



Tak sangka buku ini sangat tebal. Dikatakan terjemahan ini merupakan yang terbaik dalam edisi dwi-bahasa (Inggeris-Arab) dan menjadi buruan para intelektual yang membuat kajian berkenaan al-Ghazali.


Kepentingan teks ini tidak dapat dinafikan lagi seperti yang dikupas di atas. Niat saya membeli buku ini adalah kerana ianya bakal dijadikan teks rujukan pembinaan program rencana penyelidikan pengislaman sains yang berkait rapat dengan pelan jangka panjang pengembaraan intelektualisme saya di bawah manhaj Attasian kelak bersama guru-guru yang arif tentang falsafah klasik Islam dan Barat.


Bak kata guru falsafah sains saya, Prof. Madya Dr. Adi Setia: "Once you master
Tahafut al-Falasifah, Western philosophy will only be like pisang goreng sejuk!"


Sekian, majulah Program Pengislaman Ilmu Kontemporari dalam menyumbang kepada politik membina peradaban ummah, bukan politik murahan hadharah sekular.



1 ulasan:

Wardatul Shaukah berkata...

this article means a lot to me. just wondering of your prof said: "Once you master Tahafut al-Falasifah, Western philosophy will only be like pisang goreng sejuk!" its amazed me and opening my eyes into Islam's philosophy. jazakallahu khair